Feeds:
Pos
Komentar
oleh Beto Sendhi
Judul : in the Name of Identity
Penulis : Amin Maalouf
Penerbit : RESIST BOOK
Cetakan I : November 2004
Tebal : 180 halaman

Dalam persepsi banyak orang ia hanya menunjuk pada hal-hal sederhana. Jika ada orang yang menanyakannya, mereka reflek merogoh saku, membuka dompet dan berkata, inilah identitasku! Sekeping kartu yang berisi tulisan tentang nama, alamat, tanggal lahir, daerah, propensi, kebupaten, kecamatan, dan desa.

Dan juga, dalam banyak kesempatan, di buku-buku, di tempat-tempat diskusi atau di tempat mana saja orang membahas identitas selalu menunjuk pada pertalian-pertalian utama dalam kehidupannya. Pertalian itu adalah bahasa, warna kulit, etnis, kebangsaan, kelas dan agama. Benarkah hanya itu?

Nah, karena persepsi sederhana atas identitas ini nantinya melahirkan banyak klaim tidak tepat terhadap masalah sosial. Mereka mudah menjeneralisir setiap orang di bawah “judul” kekerasan yang sama. Akibatnya, orang-orang alim, sering berbuat baik, gemar menghargai orang lain serta merta diklaim menjadi orang jahat karena ulah segelintir orang yang kebetulan mempunyai unsur-unsur identitas yang sama. Dengan mudahnya mereka mengatakan “orang Islam jahat”, “orang Kristen angkuh”, “Warga Serbia Pembantai”, “Warga Inggris Penakluk”. Kita juga ungkapkan penilaian-penilain pukul rata pada semua orang, dengan menjuluki mereka ‘pekerja keras” dan “banyak akal”, “mudah tersinggung”, “culas”, “angkuh”, atau “keras kepala”. Ini tidak jarang menyebabkan pertumpahan darah di antara mereka.

Lanjut Baca »

Iklan

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!