Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret 27th, 2008

Oleh Beto Sendhi
(Tulisan ini Pernah dimuat di Jawa Pos)

Lakob “pahalawan tanpa tanda jasa” yang dilabelkan kepada sosok guru telah membentuk kesadaran masyarakat tersendiri. Tugas guru hanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa mengurus kesejahteraannya sebagai manusia. Maka, jika Guru menuntut kenaikan gaji, mayarakat dengan nada sinis mengatakan itu talah mencemari niat baikanya sebagai pendidik bangsa. Seolah, guru tidak mempunyai tanggung jawab terhadap keluarganya.

Guru juga manusia. Mereka mempunyai tanggungjawab terhadap keluarganya. Mereka butuh biaya untuk menyekolahkan anaknya, biaya kesehariannya dan untuk kebutuhan-kebutuhan lainnya. Jika seorang guru tidak dapat kesejahteraan dari sekolah, lalu dari mana?

Banyak tempat lain untuk mendapatkan pekerjaan sekedar mencari tambahan. Masalahnya, jika mereka mencari tambahan di tempat lain, tugas keguruannya akan terbengkalai dan mereka tidak akan professional. Konsentrasi mereka akan terpecah. Mereka harus memperhatiak dua hal secara bersamaan. Jika demikian, salah satunya harus terbengkalai. Yang seringkali terjadi, seorang guru akan meremehkan tugasnya di sekolah. Pasalanya, mereka segan pada atasannya. Sementara di sekolah tidak demikian bahkan seringkali disambut gembira oleh murid.

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

oleh Beto Sendhi
Judul : in the Name of Identity
Penulis : Amin Maalouf
Penerbit : RESIST BOOK
Cetakan I : November 2004
Tebal : 180 halaman

Dalam persepsi banyak orang ia hanya menunjuk pada hal-hal sederhana. Jika ada orang yang menanyakannya, mereka reflek merogoh saku, membuka dompet dan berkata, inilah identitasku! Sekeping kartu yang berisi tulisan tentang nama, alamat, tanggal lahir, daerah, propensi, kebupaten, kecamatan, dan desa.

Dan juga, dalam banyak kesempatan, di buku-buku, di tempat-tempat diskusi atau di tempat mana saja orang membahas identitas selalu menunjuk pada pertalian-pertalian utama dalam kehidupannya. Pertalian itu adalah bahasa, warna kulit, etnis, kebangsaan, kelas dan agama. Benarkah hanya itu?

Nah, karena persepsi sederhana atas identitas ini nantinya melahirkan banyak klaim tidak tepat terhadap masalah sosial. Mereka mudah menjeneralisir setiap orang di bawah “judul” kekerasan yang sama. Akibatnya, orang-orang alim, sering berbuat baik, gemar menghargai orang lain serta merta diklaim menjadi orang jahat karena ulah segelintir orang yang kebetulan mempunyai unsur-unsur identitas yang sama. Dengan mudahnya mereka mengatakan “orang Islam jahat”, “orang Kristen angkuh”, “Warga Serbia Pembantai”, “Warga Inggris Penakluk”. Kita juga ungkapkan penilaian-penilain pukul rata pada semua orang, dengan menjuluki mereka ‘pekerja keras” dan “banyak akal”, “mudah tersinggung”, “culas”, “angkuh”, atau “keras kepala”. Ini tidak jarang menyebabkan pertumpahan darah di antara mereka.

(lebih…)

Read Full Post »